Opini, MarajaNews—Tes Kemampuan Akademik (TKA) SD merupakan langkah yang baik untuk melihat kemampuan akademik peserta didik secara lebih objektif dan terstandar.
TKA tidak dirancang sebagai penentu kelulusan, melainkan sebagai alat untuk memetakan kemampuan siswa serta membantu sekolah dan pemerintah meningkatkan kualitas pendidikan.
Menurut saya, keberadaan TKA dapat memberikan gambaran nyata tentang kemampuan literasi, numerasi, dan penalaran siswa.
Selama ini, nilai rapor antar sekolah sering kali berbeda standar. Dengan adanya TKA, hasil belajar siswa dapat dibandingkan secara lebih adil sehingga sekolah dapat mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki.
Namun, TKA sebaiknya tidak membuat proses pembelajaran hanya berfokus pada latihan soal. Pendidikan dasar tidak hanya bertujuan menghasilkan nilai tinggi, tetapi juga membentuk karakter, kreativitas, keterampilan sosial, dan kemampuan berpikir kritis.
Oleh karena itu, guru perlu tetap menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.
Banyak siswa mampu membaca teks dengan lancar, tetapi masih kesulitan memahami informasi, menganalisis masalah, dan menarik kesimpulan.
Karena itu, soal-soal TKA yang menekankan penalaran dapat mendorong sekolah untuk lebih mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS).
Pada akhirnya, keberhasilan TKA tidak diukur dari tinggi rendahnya nilai siswa, melainkan dari bagaimana hasil tersebut digunakan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran.
Jika dimanfaatkan dengan tepat, TKA dapat menjadi sarana evaluasi yang membantu menciptakan pendidikan dasar yang lebih berkualitas, adil, dan berorientasi pada kemampuan berpikir siswa.
Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) secara resmi telah diumumkan, dengan nilai rata-rata nasional jenjang SD berada di angka 60 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan 40 untuk Matematika.
Kondisi ini dapat menjadi gambaran bahwa kemampuan membaca siswa belum tentu sejalan dengan kemampuan menalar.
Membaca adalah kemampuan memahami kata, kalimat, dan informasi yang tertulis.
Banyak siswa mampu membaca teks dengan lancar serta menemukan informasi yang tersurat dalam bacaan.
Oleh karena itu, mereka cenderung memperoleh nilai yang baik pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Namun, kemampuan menalar membutuhkan keterampilan yang lebih kompleks.
Dalam Matematika, siswa tidak hanya membaca soal, tetapi juga harus memahami masalah, menganalisis informasi, menentukan strategi penyelesaian, dan menarik kesimpulan yang tepat.
Proses ini menuntut kemampuan berpikir logis dan kritis.
Ketika nilai Bahasa Indonesia lebih tinggi daripada Matematika, hal tersebut dapat mengindikasikan bahwa siswa telah memiliki kemampuan literasi dasar yang cukup baik, tetapi kemampuan penalarannya masih perlu ditingkatkan.
Siswa mungkin dapat memahami isi bacaan, tetapi masih mengalami kesulitan saat harus menggunakan informasi tersebut untuk memecahkan masalah atau mengambil keputusan.
Oleh karena itu, pembelajaran di sekolah sebaiknya tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca dan menghafal, tetapi juga melatih siswa untuk berpikir kritis, menganalisis, membandingkan, menyimpulkan, dan menyelesaikan masalah.
Dengan demikian, kemampuan literasi dan penalaran dapat berkembang secara seimbang.
Pada akhirnya, hasil TKA mengingatkan kita bahwa bisa membaca belum tentu bisa menalar.
Kemampuan membaca merupakan fondasi penting, tetapi kemampuan menalar adalah kunci agar siswa dapat menggunakan pengetahuan yang dimilikinya untuk menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan nyata.







