Terlalu Cepat Beropini, Terlalu Lambat Bertabayun

Ikhlasul Amal (Dok.Istimewa)

Opini, MarajaNews — Era digital menghadirkan kemudahan dalam mengakses sekaligus menyebarkan informasi. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang. Sayangnya, kecepatan tersebut tidak selalu diiringi dengan kehati-hatian dalam memahami sebuah persoalan.

Fenomena yang sering terlihat adalah kecenderungan sebagian orang untuk segera membentuk dan menyampaikan opini sebelum memperoleh gambaran yang utuh. Tidak sedikit yang merasa cukup hanya dengan membaca judul, melihat potongan video, atau mengutip satu dalil tanpa menelaah konteksnya secara menyeluruh. Akibatnya, ruang publik dipenuhi penilaian yang lahir dari informasi yang belum lengkap.

Bacaan Lainnya
Baca Juga:  Membedah Ketidakadilan Gender dan Urgensi Menciptakan Ruang Aman bagi Perempuan di Indonesia

Dalam Islam, kehati-hatian terhadap informasi merupakan prinsip yang sangat penting. Sikap tabayun bukan sekadar memeriksa benar atau salahnya sebuah berita, tetapi juga memahami konteks, latar belakang, serta dampak dari penyebarannya. Sebab, informasi yang benar sekalipun dapat melahirkan kesalahpahaman apabila dipotong dari konteksnya.

Nasihat yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib, “Jangan mengambil keputusan ketika sedang marah, dan jangan membuat janji ketika sedang senang,” mengandung pelajaran berharga tentang pentingnya mengendalikan emosi. Baik kemarahan maupun kegembiraan yang berlebihan dapat memengaruhi objektivitas seseorang dalam menilai suatu persoalan.

Media sosial sering kali mendorong budaya “siapa yang paling cepat” daripada “siapa yang paling tepat”. Padahal, dalam banyak keadaan, keputusan yang diambil secara tergesa-gesa justru meninggalkan penyesalan yang lebih panjang. Sebuah unggahan mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk dipublikasikan, tetapi dampaknya dapat bertahan bertahun-tahun.

Baca Juga:  Solidaritas Donasi Rakyat, Apa Kabar CSR?

Karena itu, menahan diri sejenak sebelum berkomentar bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan. Memberikan ruang bagi akal sehat, hati nurani, dan pertimbangan yang matang akan melahirkan sikap yang lebih adil dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cepat menyampaikan pendapat, tetapi juga pribadi yang mampu menjaga integritas informasi. Sebab, dalam kehidupan bermasyarakat, yang lebih penting daripada sekadar cepat adalah tepat.

Oleh: Ikhlasul Amal

Pos terkait