Sinjai, MarajaNews—Peternakan ayam petelur di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, mengeluhkan anjloknya harga telur yang dinilai tidak lagi sebanding dengan tingginya biaya produksi.
Kondisi tersebut membuat para peternak semakin tertekan karena harga pakan ayam terus mengalami kenaikan.
Salah seorang peternak di Desa Bonto Kecamatan Sinjai Tengah Asfar mengatakan harga telur saat ini hanya berkisar Rp38 ribu per rak, turun drastis dibandingkan beberapa waktu lalu yang sempat mencapai Rp45 ribu hingga Rp55 ribu per rak.
“Peternak sekarang benar-benar mengeluh karena harga telur terus turun Sementara biaya produksi justru semakin tinggi,” ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Menurut Asfar, kenaikan harga pakan menjadi beban terbesar bagi peternak.
Saat ini harga pakan mencapai Rp475 ribu per sak, naik dari sebelumnya sekitar Rp445 ribu per sak.
“Kondisi ini membuat keuntungan peternak semakin menipis. Bahkan ada yang sudah mulai merugi karena harga jual tidak mampu menutup biaya operasional,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Firman peternak asal Desa Mattunreng Tellue Kecamatan Sinjai Tengah.
Ia mengaku sebagian hasil produksi telurnya terpaksa disimpan karena harga jual yang terus merosot.
“Kalau dijual dengan harga sekarang, kami pasti rugi Terpaksa sebagian telur kami simpan sambil berharap harga kembali membaik,” ungkapnya.
Firman berharap Pemerintah Kabupaten Sinjai memberikan perhatian serius terhadap kondisi peternak lokal.
Menurutnya, perlu ada langkah untuk mengendalikan masuknya pasokan telur dari luar daerah agar produksi peternak Sinjai dapat lebih mudah terserap pasar.
Selain itu, ia juga meminta agar kebutuhan telur untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diprioritaskan berasal dari peternak lokal.
“Kami berharap dapur MBG membeli telur dari peternak Sinjai terlebih dahulu, Pasokan dari luar daerah sebaiknya digunakan jika produksi lokal memang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan” harap Firman.
Para peternak berharap adanya kebijakan yang berpihak kepada peternak lokal agar usaha peternakan ayam petelur tetap bertahan di tengah tekanan harga jual yang terus menurun dan biaya produksi yang semakin tinggi.






