Makassar, MarajaNews—Program Studi Ilmu Komunikasi akan menghadirkan pertunjukan drama musikal bertajuk “Manipulation of Communication: Propaganda Media” sebagai puncak rangkaian Inaugurasi Ilmu Komunikasi 2025.
Pertunjukan yang dijadwalkan berlangsung di Gedung Manunggal itu mengusung pesan kuat tentang pentingnya literasi digital di tengah derasnya arus informasi,Sabtu (25/7/2026).
Mengangkat tema “Manipulation of Communication: Propaganda Media”, pertunjukan ini menyoroti bagaimana propaganda, disinformasi, framing, hingga narasi yang menggiring opini publik semakin mudah menyebar melalui media digital dan media sosial.
Ketua Panitia Inaugurasi Ilmu Komunikasi, Muhammad Fikri Syahrir, mengatakan tema tersebut dipilih karena sangat relevan dengan kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda yang setiap hari berinteraksi dengan berbagai platform digital.
“Kami ingin menyampaikan bahwa komunikasi bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga memiliki kekuatan membentuk persepsi publik. Melalui drama musikal ini, kami mengajak masyarakat agar lebih kritis dalam menerima informasi serta tidak mudah terpengaruh oleh propaganda maupun berita yang belum terverifikasi,” ujar Fikri.
Pertunjukan akan dikemas melalui perpaduan seni modern dan budaya lokal.
Penonton akan disuguhkan berbagai penampilan, mulai dari Angngaru, Tari Paduppa, paduan suara, koreografi, akustik, drumline, puisi, monolog, dance, hingga Tari Fatamorgana, yang seluruhnya dirancang untuk memperkuat pesan mengenai etika komunikasi dan pentingnya berpikir kritis.
Salah satu penampilan yang menjadi perhatian adalah monolog berjudul “Dunia Manipulasi”.
Naskah tersebut mengisahkan seorang tokoh yang merasa mampu mengendalikan opini publik melalui permainan kata-kata.
Namun pada akhirnya, ia justru menjadi korban dari manipulasi yang diciptakannya sendiri.
Monolog tersebut membawa pesan bahwa kata-kata memiliki kekuatan besar, tidak hanya membangun citra seseorang, tetapi juga mampu menghancurkan reputasi apabila digunakan tanpa tanggung jawab.
Sementara itu, Tari Fatamorgana menjadi simbol kuat dalam menggambarkan realitas media digital saat ini.
Tarian tersebut merepresentasikan ilusi yang tampak nyata, tetapi belum tentu benar, layaknya informasi yang dikemas secara meyakinkan meski belum tentu sesuai fakta.
Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi menilai pendekatan seni menjadi salah satu media komunikasi yang efektif dalam menyampaikan pesan akademik kepada masyarakat.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori komunikasi di ruang kuliah, tetapi juga mampu mengimplementasikan ilmunya melalui karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Seni menjadi media komunikasi yang efektif untuk membangun kesadaran akan pentingnya literasi digital,” katanya.
Melalui pertunjukan ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi ingin mengingatkan bahwa propaganda media tidak selalu hadir secara terang-terangan.
Manipulasi dapat muncul melalui judul provokatif, informasi yang dipotong, narasi emosional, hingga konten viral yang secara perlahan membentuk opini publik tanpa disadari.
Karena itu, kemampuan memverifikasi informasi, memahami konteks sebuah pemberitaan, serta mengenali kepentingan di balik setiap pesan menjadi bekal penting bagi masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang menyesatkan.
Panitia berharap drama musikal ini tidak hanya menjadi hiburan dalam rangkaian Inaugurasi Ilmu Komunikasi 2025, tetapi juga menjadi ruang refleksi bersama tentang pentingnya komunikasi yang sehat, bertanggung jawab, dan berlandaskan fakta di era digital.






