Refleksi Hari Kartini, Aktivis Mahasiswa Sinjai Soroti Tingginya Angka Kekerasan Perempuan dan Anak 

Harmadani Ketua Kohati HMI Cabang Sinjai (Kiri) Dilla Ketua Kopri PMII Cabang Sinjai (Kanan)

Sinjai, MarajaNews—Peringatan Hari Kartini di Kabupaten Sinjai tahun ini tidak dilewati dengan sekadar seremoni kebaya.

Dua pimpinan organisasi kemahasiswaan perempuan terbesar di Sinjai, KOHATI HMI Cabang Sinjai dan KOPRI PC PMII Sinjai, mengeluarkan pernyataan keras merefleksikan kondisi rill perempuan di daerah yang dijuluki Bumi Panrita Kitta tersebut.

Bacaan Lainnya

Ketua Umum Kohati HMI Cabang Sinjai, Harmadani, menegaskan bahwa semangat Kartini adalah api perlawanan terhadap hegemoni patriarki, bukan sekadar romantisme sejarah.

Namun, ia menyoroti kontradiksi tajam antara gelar religius Sinjai dengan realitas angka kekerasan yang masih menghantui perempuan dan anak.

Baca Juga:  Diduga Jatuh Saat Tebar Jaring, Pemuda 20 Tahun Hilang di Laut Sinjai

“Di balik gelar Bumi Panrita Kitta, tersimpan fakta memilukan. Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di daerah kita terus menunjukkan tren yang mencemaskan. Rumah yang seharusnya teduh kini menjadi ruang trauma. Kita sedang darurat ruang aman!” tegas Harmadani.

Ia menyatakan bahwa KOHATI Cabang Sinjai berkomitmen menjadi lembaga pengawal dan ruang perlindungan bagi para korban.

“KOHATI bukan organisasi pajangan. Untuk setiap perempuan yang terancam dan anak yang memendam luka: datanglah pada kami. Kami siap mengawal hingga keadilan tak lagi menjadi barang mewah,” tambahnya

Senada dengan hal tersebut, Ketua Kopri PMII Cabang Sinjai, Dilla, mengajak seluruh elemen perempuan untuk menghidupkan kembali pemikiran Kartini melalui aksi nyata.

Baca Juga:  Coming Soon Open Turnamen Domino AFG Cup Sinjai Siapkan Hadiah Fantastis Ratusan Juta Rupiah

Meski mengapresiasi keterlibatan perempuan Sinjai dalam pembangunan, Dilla tidak menutup mata terhadap isu-isu krusial yang masih mengakar.

“Tidak dapat dipungkiri, masih ada perempuan yang terjebak dalam kemiskinan, pernikahan dini, kekerasan dalam rumah tangga, hingga minimnya akses pendidikan tinggi di Sinjai,” ungkap Dilla.

Dilla menekankan bahwa peran perempuan hari ini adalah menjadi pendamping bagi mereka yang kehilangan suara.

“Kita hadir untuk menjadi Kartini baru yang turun ke kampung, mendengar keluhan ibu-ibu di pasar, dan mendorong kebijakan yang benar-benar berpihak pada perempuan. Selama perempuan masih berjuang, Kartini belum pergi,” pungkasnya.

Kedua tokoh aktivis mahasiswa ini sepakat bahwa tantangan perempuan di Sinjai saat ini membutuhkan kecerdasan intelektual sekaligus keberanian mental.

Baca Juga:  Antisipasi Kemarau Panjang 2026, Pemkab Sinjai Siapkan Strategi Mitigasi Lintas Sektor

Mereka menyerukan agar momentum Hari Kartini menjadi titik balik bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk memberikan jaminan keamanan dan martabat bagi perempuan dan anak-anak di Sinjai.

Mari berdaya, mari melawan, dan selamatkan masa depan perempuan Sinjai.

Pos terkait