Antisipasi Kemarau Panjang 2026, Pemkab Sinjai Siapkan Strategi Mitigasi Lintas Sektor

Bupati Sinjai, Hj. Ratnawati Arif, didampingi Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan, H. Kamaruddin, Lakukan Kunjungan Kerja(Dok.Istimewa)

Jakarta, MarajaNews—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sinjai bergerak cepat dalam mengantisipasi dampak fenomena El Nino ekstrem atau yang dijuluki ‘El Nino Godzilla’.

Fenomena ini diprediksi akan melanda selama 6 hingga 8 bulan ke depan, memicu kekeringan panjang serta risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Bacaan Lainnya

Menindaklanjuti ancaman tersebut, Bupati Sinjai, Hj. Ratnawati Arif, didampingi Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan, H. Kamaruddin, melakukan langkah “jemput bola” dengan melakukan kunjungan kerja ke Kementerian Pertanian RI di Jakarta, Senin (20/04/2026).

Baca Juga:  Cuaca Ekstrem Dominasi Bencana di Sinjai Sepanjang 2025, BPBD Catat 89 Kejadian

Kunjungan ini bertujuan untuk mengamankan dukungan strategis dari Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian guna memperkuat infrastruktur air di Kabupaten Sinjai.

“Kami ingin memastikan langkah antisipasi dilakukan sejak dini. Dukungan pusat sangat krusial untuk memperkuat ketahanan pangan daerah melalui optimalisasi bantuan pompa air dan penguatan sistem irigasi,” tegas Hj. Ratnawati Arif usai pertemuan di Jakarta.

Langkah proaktif ini merupakan kelanjutan dari hasil Rakornas Antisipasi Musim Kemarau 2026 yang menyoroti potensi kekeringan ekstrem berdasarkan prediksi BMKG.

Dengan potensi lahan pertanian mencapai 23.000 hektare, Pemkab Sinjai menjadikan stabilitas produksi pangan sebagai prioritas utama.

Sedangkan di tingkat daerah, seluruh lini mulai dari penanggulangan bencana hingga sektor pertanian kini dalam status siaga penuh.

Baca Juga:  Angin Kencang Terjang 7 Kecamatan di Sinjai, Satu Rumah Rusak Berat

PLT Kepala BPBD Sinjai, Andi Ariany Djalil, menegaskan fokus utama saat ini adalah respon cepat terhadap titik api (karhutla) dan penguatan sinergi lintas sektor agar sistem mitigasi jauh lebih responsif.

“Respon cepat adalah kunci. Kami meminta masyarakat segera melapor jika menemukan titik api sekecil apa pun dan mengimbau warga untuk bijak dalam penggunaan air serta tidak melakukan pembakaran lahan secara terbuka,” jelas Andi Ariany.

Pos terkait