Sinjai, MarajaNews—Proyek pembangunan strategis nasional “Sekolah Rakyat” di lingkungan Tanassang, Kabupaten Sinjai, menuai kritik tajam dari masyarakat.
Proyek senilai Rp245 miliar ini dituding abai terhadap keselamatan publik dan kebersihan lingkungan, khususnya di kawasan Masjid Islamic Center Sinjai.
Jalan Licin dan Berlumpur hingga Kerikil yang bertebaran Bahayakan parah Pengendara.
Dari Pantauan di lokasi menunjukkan sisa material bangunan dan lumpur dari proyek tersebut meluber hingga ke badan jalan raya.
Kondisi ini mengubah akses publik menjadi area yang licin dan penuh bebatuan, sehingga sangat membahayakan pengguna jalan.
Amsir, salah seorang pengendara motor, mengaku hampir terjatuh saat melintas.
“Jalan sangat licin karena lumpur dan banyak batu lepas, Tadi saya hampir kecelakaan. Ini sangat berbahaya jika tidak segera dibersihkan,” ungkapnya.
Tak hanya persoalan jalan, kondisi fasilitas publik di kawasan Masjid Islamic Center Sinjai juga sangat memprihatinkan.
Area toilet dan ruang utama masjid dilaporkan beralih fungsi menjadi area domestik bagi para pekerja proyek yang tidak teratur.
Berdasarkan pantauan, lantai toilet masjid tampak jorok dan dipenuhi lumpur.
Pemandangan semakin kumuh dengan banyaknya pakaian pekerja yang digantung sembarangan di area toilet.
Sebelumnya, lantai satu masjid bahkan sempat dijadikan tempat menginap dengan tali jemuran yang membentang di antara tiang-tiang masjid.
“Sangat disayangkan tempat suci ini justru kotor, Toilet penuh lumpur dan baju-baju tergantung di mana-mana. Ini area ibadah bukan barak pengungsian. Pihak pekerja seolah tidak memiliki adab terhadap kebersihan rumah Allah,” ujar DN, salah satu jamaah dengan nada kecewa.
Proyek Sekolah Rakyat ini merupakan program strategis Presiden Prabowo Subianto yang dikerjakan oleh PT Nindya Karya KSO – PT Bumi Perkasa Sidenreng.
Meski menyerap anggaran fantastis sebesar Rp245 miliar, manajemen kebersihan dan perilaku pekerja di lapangan dinilai sangat buruk.
Proyek ini melibatkan sekitar 715 pekerja, dengan rincian 500 pekerja didatangkan dari Pulau Jawa dan sisanya tenaga lokal.
Besarnya jumlah pekerja ini diduga tidak dibarengi dengan penyediaan fasilitas akomodasi yang memadai oleh pihak kontraktor.
“Islamic Center adalah ikon kota Sinjai. Kontraktor harusnya menyediakan fasilitas tinggal yang layak bagi pekerja mereka, jangan justru merambah dan merusak fasilitas ibadah,” tegas AR, warga setempat.






