Sinjai, MarajaNews—Seorang pemuda asal Sulawesi Selatan kembali dilaporkan ditangkap oleh pasukan Israel saat menjalankan misi kemanusiaan ke Gaza, Palestina.
Korban terbaru adalah As’ad Aras Muhammad, warga Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.
As’ad merupakan putra dari pimpinan Yayasan Pendidikan Alfurqan Quranic School, pengelola Rumah Tahfizh Alfurqan di Kelurahan Bongki, Kecamatan Sinjai Utara.
Kabar penangkapan ini dikonfirmasi langsung oleh sang ibu, Rabia (60), saat ditemui di kediamannya pada Rabu (20/5/2026).
Berdasarkan keterangan Rabia, As’ad hilang kontak sejak Senin (18/5/2026) tengah malam setelah kapal yang ditumpanginya diadang oleh angkatan laut Israel (IOF).
“Terkait Pak As’ad, kronologi penangkapannya itu terjadi saat kapal mulai berlayar dan tepat hari Senin tengah malam, Kapal mereka dibajak,” ujar Rabia.
As’ad berangkat menuju Gaza bersama lebih dari 500 relawan internasional yang tergabung dalam armada Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0.
Rombongan yang terdiri dari 54 kapal pembawa bantuan kemanusiaan tersebut bertolak dari Albatros Marina, Pelabuhan Albatros, Turki, pada Kamis (14/5/2026).
Insiden pencegatan dan pembajakan oleh pasukan Israel diduga terjadi di dekat wilayah Siprus, Laut Mediterania Timur.
Delegasi Indonesia di Kapal Kasr-1Melansir data dari situs resmi Spirit of Aqsa (spiritofaqsa.or.id), As’ad berada di Kapal Kasr-1 bersama satu delegasi Indonesia lainnya, Hendro Prasetyo.
Selain mereka berdua, terdapat sejumlah delegasi dan jurnalis asal Indonesia lainnya yang ikut dalam pelayaran GSF 2.0.
Mereka adalah Herman Budianto Sudarsono, Ronggo Wirasanu, Andi Angga Prasadewa, Bambang Noroyono, Thoudy Badai Rifan Billah, Andre Prasetyo Nugroho, dan Rahendro Herubowo.
Keluarga korban pertama kali menerima informasi penangkapan ini melalui grup WhatsApp dari pihak kantor dan adik korban yang berada di Jakarta.
Rabia mengaku sudah memiliki firasat buruk sebelum kabar tersebut datang.
“Saya sejak kemarin sangat gelisah dan sudah ada firasat bahwa ada masalah yang terjadi. Namun, As’ad bersama relawan lain sebenarnya sudah siap dengan segala kemungkinan dan risiko yang akan terjadi dalam misi ini,” ungkap Rabia.
As’ad dikenal aktif sebagai relawan kemanusiaan sejak tahun 2014.
Anak keempat dari 12 bersaudara ini pernah menempuh pendidikan di Al Markaz Darul Istiqamah sebelum melanjutkan studinya ke Bogor dan Jakarta.
Di mata keluarga, ia dikenal sebagai sosok yang pendiam, bijaksana, serta selalu memberikan solusi bagi keluarga.
Rabia meminta kepada Pemerintah pihak berwenang Untuk Memberikan solusi Terhadap Anaknya
“Harapan saya agar pemerintah Indonesia segera mengambil tindakan nyata dan solusi terbaik agar para relawan ini bisa segera dibebaskan,” pungkasnya.






