Serbu Sinjai, 500 Pekerja Asal Jawa di Proyek Sekolah Rakyat Kini Huni Masjid Islamic Center

Pembangunan sekolah Rakyat Program Prabowo Subianto Di Lingkungan tanassang kelurahan Alehanuae

Sinjai, MarajaNews—Pembangunan proyek strategis “Sekolah Rakyat” yang merupakan program Presiden Prabowo Subianto di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, terus berlanjut

Proyek ini berlokasi di Lingkungan Tanassang, Kelurahan Alehanuae, Kecamatan Sinjai Utara.

Bacaan Lainnya

Proyek bernilai kontrak Rp245 miliar tersebut dikerjakan oleh PT Nindya Karya KSO bersama PT Bumi Perkasa Sidenreng.

Manajer Keuangan proyek Hasril, mengungkapkan bahwa skala pembangunan ini melibatkan tenaga kerja dalam jumlah besar.

“Sekitar 715 pekerja dilibatkan dalam proyek ini,” ujar Hasril saat dikonfirmasi.

Hasril menjelaskan bahwa mayoritas tenaga kerja didatangkan dari luar daerah.

Baca Juga:  Dorong Budaya Baca-Tulis, Panrita Literasi Institute Resmi Diluncurkan di Sinjai

Dari total 715 Para pekerja, sebanyak 500 orang berasal dari Pulau Jawa.

sementara sisanya merupakan tenaga lokal dari Sulawesi Selatan, termasuk Sinjai dan beberapa Kabupaten lain.

Namun, di tengah kelancaran pembangunan, muncul keluhan dari masyarakat terkait pemanfaatan Masjid Islamic Center Sinjai sebagai tempat menginap para pekerja.

Masjid yang berada hanya 100 meter dari lokasi proyek tersebut kini dipenuhi oleh puluhan pekerja yang beristirahat di lantai satu.

Dari pantauan MarajaNews di lokasi menunjukkan pemandangan yang kurang elok para pekerja tidur beralaskan karpet dan membentangkan tali jemuran di antara tiang-tiang masjid untuk menggantung pakaian.

 

Kondisi ini dinilai merusak estetika dan kebersihan masjid yang merupakan ikon religi di Kabupaten Sinjai.

Baca Juga:  Waspada Gelombang Tinggi di Perairan Sinjai hingga 17 Januari, BPBD Imbau Nelayan Berhati-hati

Seorang warga setempat yang minta identitas nya dirahasiakan menyatakan keresahannya atas aktivitas tersebut.

Menurutnya, sebagai simbol kesucian, kerapian masjid seharusnya dijaga ketat.

“Kami sangat resah dan Geram Islamic Center adalah ikon kota, tempatnya harus tertata rapi. Masa sampai pakaian pun dijemur di dalam masjid, itu sangat tidak elok,” keluhnya.

Hal senada disampaikan oleh Ag warga lainnya.

Ia menilai pihak kontraktor lalai dalam menyediakan fasilitas basecamp atau tempat istirahat yang layak bagi ratusan pekerja tersebut.

“Harusnya pengembang menyediakan tempat tinggal khusus bagi pekerjanya, jangan menggunakan fasilitas ibadah. Kami mendesak pengelola Islamic Center dan pihak kontraktor untuk segera mengambil langkah tegas,” tegas AG.

Baca Juga:  Hanya Berbekal Secarik Kertas, Pasutri di Sinjai Ungkap Fakta Pilu, 7 Hari Tanpa Nasi

Pos terkait