TOKYO, MarajaNews — Pengalaman membangun pendidikan di daerah dengan segala keterbatasan membawa Risal Sulle, S.Ag., M.Pd., Mudir Pesantren Tahfidz Nuur Ilaahi, ke panggung internasional.
Risal terpilih menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam kegiatan Japan Intercultural Exchange and Summit yang digelar Garuda Nusa di Tokyo, Jepang, Rabu (7/10/2026).
Dalam kegiatan tersebut, ia bersama 19 delegasi lainnya dari berbagai institusi pendidikan di Indonesia. Para delegasi berasal dari sejumlah perguruan tinggi dan lembaga pendidikan, di antaranya Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, hingga dosen Universitas Terbuka Jakarta.
Risal hadir mewakili Pesantren Tahfidz Nuur Ilaahi.
Salah satu agenda yang diikutinya yakni mengajar di Sekolah Indonesia di Jepang melalui kerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jepang.
Ia juga menjadi pembicara dalam SDG Youth Conference di Universitas Tokyo. Forum tersebut mempertemukan para delegasi internasional dengan mahasiswa program magister dan doktor Universitas Tokyo.
Di hadapan peserta forum, Risal membagikan pengalaman tentang pendidikan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), khususnya perjalanan membangun Pesantren Tahfidz Nuur Ilaahi.
“Pendidikan tidak harus menunggu semua fasilitas tersedia. Justru dari keterbatasan itulah kita belajar bagaimana membangun, berinovasi, dan menciptakan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Ia menceritakan bagaimana Pesantren Tahfidz Nuur Ilaahi dibangun dengan berbagai keterbatasan, sekaligus memaparkan sejumlah program yang telah diinisiasinya dalam bidang pendidikan dan pembinaan generasi muda.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi penting untuk dibagikan dalam forum internasional agar pendidikan di daerah tidak hanya dilihat dari keterbatasannya, tetapi juga dari potensi dan inovasi yang lahir dari masyarakat setempat.
“Kami membawa cerita dari daerah. Bahwa dari tempat yang mungkin dianggap jauh dari pusat perkembangan, tetap bisa lahir program pendidikan, pembinaan, dan gerakan sosial yang memberikan dampak,” katanya.
Selain pendidikan, Risal turut memaparkan berbagai program sosial yang dipimpinnya di Bulukumba. Di antaranya program yang bekerja sama dengan Asar Humanity, pengkaderan guru ngaji bersama Duta Qur’an Indonesia, serta pembinaan sembilan Rumah Tahfidz di bawah naungan yayasan yang dipimpinnya.
Dalam sesi diskusi lainnya, Risal bersama tiga delegasi lainnya membahas pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), teknologi, dan inovasi untuk mewujudkan kota dan pemukiman yang inklusif serta mendukung keberlanjutan ekosistem laut dan darat.
Dalam pemaparannya, ia membawa contoh nyata yang telah diterapkan di lingkungan Pesantren Tahfidz Nuur Ilaahi, seperti pengembangan kebun sayur dan pengelolaan sampah menjadi kompos.
“Teknologi dan inovasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Di pesantren, kami mencoba memulainya dari hal-hal sederhana, seperti memanfaatkan lahan untuk kebun sayur dan mengolah sampah menjadi kompos,” jelasnya.
Menurutnya, pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan peserta didik yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga membentuk kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
“Pesantren bukan hanya tempat belajar agama. Di dalamnya juga ada ruang untuk membangun kemandirian, kepedulian sosial, kepedulian terhadap lingkungan, serta menyiapkan generasi yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Rangkaian kegiatan di Tokyo kemudian ditutup dengan pemberian penghargaan kepada para delegasi.
Dalam kesempatan tersebut, Risal menerima penghargaan dari CEO Garuda Nusa sebagai “The Most Inspiring Delegate”. Penghargaan itu diserahkan di hadapan mahasiswa program magister dan doktor Universitas Tokyo.
Penghargaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Risal membawa pengalaman pendidikan pesantren dan berbagai gerakan sosial dari daerah ke forum internasional.
Dari pesantren yang dibangun di tengah keterbatasan, gagasan-gagasan tersebut akhirnya diperbincangkan di salah satu kampus terkemuka dunia, Universitas Tokyo, Jepang.






