Wajo, Marajanews—Pembangunan infrastruktur pengendali banjir Sungai Walanae di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, kini mulai menunjukkan hasil nyata.
Proyek dengan nilai pagu anggaran lebih dari Rp14 miliar tersebut terus dikebut dan telah mencapai progres fisik sekitar 77 persen.
Pekerjaan yang dilaksanakan PT Sarjis Agung Indrajaya itu mulai dikerjakan pada awal Juni 2026.
Percepatan pembangunan dilakukan sebagai langkah antisipasi menghadapi musim penghujan sekaligus memastikan pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target kontrak.
Yang menarik, pembangunan pengendali banjir dan perkuatan tebing Sungai Walanae ini bukan tiba-tiba muncul.
Program tersebut sebelumnya telah terus disuarakan dan diperjuangkan oleh anggota DPR RI, H. Andi Irwan Darmawan Aras, pada tahun-tahun sebelumnya.
Aspirasi tersebut akhirnya mendapat realisasi pada Tahun Anggaran 2026.
Bagi masyarakat di sekitar bantaran Sungai Walanae, khususnya di Desa Bentenglompoe, Kecamatan Sabbangparu, Kabupaten Wajo, terealisasinya pembangunan ini menjadi kabar yang dinilai sangat berarti.
Selama ini, kondisi bantaran Sungai Walanae menjadi perhatian masyarakat karena potensi gerusan dan ancaman meningkatnya debit air ketika curah hujan tinggi.
Karena itu, kebutuhan pembangunan perkuatan tebing dan pengendali banjir telah menjadi salah satu persoalan yang terus mendapat perhatian dan disuarakan kepada pemerintah.
H. Andi Irwan Darmawan Aras disebut secara konsisten menyuarakan kebutuhan tersebut pada tahun sebelumnya. Kini, aspirasi itu telah bertransformasi menjadi pekerjaan fisik yang sedang berjalan di lapangan.
Realisasi pada Tahun Anggaran 2026 tersebut menjadi bukti bahwa aspirasi masyarakat yang dikawal melalui jalur legislatif dapat berujung pada pembangunan yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Alhamdulillah, apa yang selama ini kita suarakan dan perjuangkan akhirnya bisa terlaksana di Tahun Anggaran 2026. Harapan kita, pembangunan ini benar-benar memberikan manfaat dan perlindungan bagi masyarakat yang berada di sekitar Sungai Walanae,” demikian harapan yang disampaikan terkait realisasi program tersebut.
Dengan progres sekitar 77 persen, pekerjaan kini memasuki tahapan penting. Percepatan memang diperlukan, terlebih ancaman musim hujan semakin dekat.
Namun, percepatan tersebut tetap harus berjalan beriringan dengan kualitas pekerjaan.
Kepala Satuan Kerja (Satker), Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), dan pihak kontraktor pelaksana terus melakukan koordinasi serta pengawasan di lapangan untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai spesifikasi teknis dalam kontrak.
“Kami terus menggenjot pembangunan ini agar selesai sesuai target kontrak yang telah disepakati. Koordinasi yang erat antara satker, PPK, dan pihak kontraktor menjadi kunci utama percepatan ini tanpa mengabaikan aspek mutu,” ujar salah satu pengawas di lapangan.
Pihak pelaksana juga menegaskan bahwa pekerjaan mengacu pada Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan Rencana Mutu Kontrak (RMK).
Salah satu bagian penting dalam pekerjaan adalah pembangunan struktur perkuatan untuk menghadapi tekanan arus dan potensi gerusan sungai. Material batu dengan bobot sekitar 100 hingga 200 kilogram digunakan sesuai spesifikasi teknis pekerjaan.
Penggunaan alat berat dan material pendukung juga disesuaikan dengan dokumen kontrak yang telah ditetapkan.
Bagi warga yang tinggal di sekitar bantaran Sungai Walanae, pembangunan tersebut bukan hanya soal angka anggaran maupun progres pekerjaan. Infrastruktur itu diharapkan menjadi perlindungan nyata ketika debit sungai meningkat.
“Mudah-mudahan dengan adanya pembangunan perkuatan tebing sungai ini, warga yang tinggal di sekitar bantaran Sungai Walanae bisa merasa lebih aman dan tenang saat musim hujan nanti,” ungkap salah seorang pekerja proyek yang juga merupakan warga lokal.
Harapan masyarakat sederhana pembangunan yang telah lama disuarakan tersebut benar-benar kokoh, berkualitas, dan mampu menjalankan fungsi sebagaimana tujuan awalnya.
Realisasi proyek ini sekaligus menempatkan Tahun Anggaran 2026 sebagai momentum penting bagi masyarakat sekitar Sungai Walanae.
Aspirasi yang sebelumnya terus disuarakan kini telah menjadi pekerjaan fisik dengan progres mencapai 77 persen.
Namun, pekerjaan belum selesai. Tahap akhir pembangunan akan menjadi penentu.
Kualitas konstruksi, kesesuaian spesifikasi, ketepatan waktu, dan fungsi infrastruktur setelah selesai harus menjadi perhatian hingga proyek benar-benar rampung.
Sebab, keberhasilan proyek pengendali banjir tidak cukup diukur dari seberapa cepat bangunan selesai.
Ukuran yang paling penting adalah sejauh mana infrastruktur tersebut mampu memberikan perlindungan kepada masyarakat ketika Sungai Walanae kembali menghadapi debit air tinggi.
Aspirasi telah disuarakan, anggaran telah direalisasikan, pembangunan telah berjalan.
Kini masyarakat menunggu satu hal: hasil pembangunan yang benar-benar berkualitas dan memberikan manfaat jangka panjang.






