Sinjai, MarajaNews—Nelayan di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, menyampaikan keluhan terkait sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak jenis Solar kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.
Keluhan tersebut disampaikan saat Menteri KKP bersama Menteri Koperasi Ferry Juliantono melakukan kunjungan ke kawasan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tongke-Tongke, Desa Tongke-Tongke, Kecamatan Sinjai Timur, Jumat (25/9/2026).
Kunjungan kedua menteri tersebut merupakan bagian dari agenda penguatan sinergi lintas kementerian dan lembaga dalam rangka mempercepat pengelolaan serta operasionalisasi KNMP di Kabupaten Sinjai.
Dalam kunjungan itu, Menteri Sakti Wahyu Trenggono menyempatkan diri berdialog langsung dengan sejumlah nelayan di kawasan KNMP, termasuk para awak kapal yang tengah bersandar.
Salah seorang nelayan, Irham, yang merupakan Anak Buah Kapal (ABK) KM Ilham Jaya 03, menyampaikan keluhannya terkait sulitnya memperoleh Solar untuk kebutuhan melaut.
“Kami berangkat melaut kalau ada Solar, Pak. Sementara Solar sangat sulit didapat,” keluh Irham kepada Menteri Sakti Wahyu Trenggono.
Keluhan tersebut disampaikan saat Menteri KKP mendatangi kapal nelayan dan berdialog dengan para awak kapal.
Mendengar keluhan itu, Sakti kemudian menyapa salah seorang komisaris Pertamina Patra Niaga yang turut hadir dalam kunjungan tersebut.
Ia menyampaikan bahwa kebutuhan Solar bagi nelayan di Kabupaten Sinjai masih mengalami kekurangan. Menurutnya, terdapat kekurangan pasokan hingga sekitar 280 kiloliter.
“Ini ada dari Patra Niaga. Sekaligus saya menyampaikan bahwa Sinjai itu masih kekurangan 280 kiloliter Solar. Ini harus ditambah,” ujar Sakti.
Pernyataan tersebut langsung disambut tepuk tangan para nelayan yang berada di sekitar lokasi.
Sakti menegaskan, ketersediaan Solar menjadi salah satu faktor penting dalam menunjang aktivitas nelayan agar tetap dapat melaut dan menjalankan mata pencahariannya.
“Seluruh nelayan kita harus melaut, itu perintah Pak Presiden. Makanya 280 kiloliter kekurangan Solar di Sinjai harus kita tambah,” tegasnya.
Ia juga memastikan persoalan tersebut akan kembali disampaikan kepada pihak Pertamina setelah kunjungannya di Kabupaten Sinjai.
“Sepulang dari sini akan saya sampaikan lagi ke Pertamina,” ujarnya.
Selain persoalan BBM, Menteri KKP juga menyampaikan pentingnya inovasi dalam menjaga kualitas hasil tangkapan nelayan.
Menurutnya, kualitas ikan perlu dijaga melalui sistem pendinginan yang baik sejak hasil tangkapan diangkat dari laut hingga dibawa ke daratan.
Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah penggunaan ice slurry, yakni butiran es halus yang dinilai mampu memberikan proses pendinginan lebih optimal dibandingkan penggunaan ice block atau es balok.
Dengan penerapan sistem tersebut, kualitas dan kesegaran hasil tangkapan diharapkan tetap terjaga sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi hasil produksi nelayan.






