Tadarus Sastra Bahas “Konspirasa di Titik ب”, Hadirkan Dialog Filsafat, Sejarah, dan Kritik Sosial

(Dok.Istimewa)

GOWA, MarajaNews — Kegiatan Tadarus Sastra yang digelar UKM Seni Budaya eSA menghadirkan dialog reflektif bertajuk “Konspirasa di Titik ب” pada Jumat malam (13/3/2026) di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gowa.

Forum yang berlangsung sejak pukul 21.00 hingga menjelang sahur ini mempertemukan sejumlah narasumber dari latar akademik dan kebudayaan untuk membaca fenomena sosial kontemporer melalui pendekatan historis, filosofis, dan kultural.

Dialog tersebut menghadirkan Dr. Muhsin, M.Ag, Pdt. Dr. Diks S. Pasande, M.Th, dan Aslan Abidin, dengan moderator Gunawan Hatmin, S.Ag., M.Ag.

Dalam pemaparannya, Dr. Muhsin menjelaskan tema titik Ba (ب) dari sudut pandang historis. Ia menyebutkan bahwa dalam perkembangan tradisi keilmuan Islam, tanda titik pada huruf Arab tidak selalu hadir sejak awal, melainkan melalui proses historis yang panjang dalam sistem penulisan bahasa Arab.

Baca Juga:  Gandeng Tokoh Masyarakat, Wahdah Islamiyah Sinjai Siapkan Rumah Qur’an di Botolempangan

Seiring waktu, simbol kecil tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penanda fonetik, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari narasi simbolik dalam tradisi intelektual dan spiritual.

Dalam beberapa tradisi pemikiran sufistik, titik pada huruf Ba bahkan dimaknai sebagai simbol metafisik yang merepresentasikan awal pengetahuan dan kesadaran.

Sementara itu, Pdt. Dr. Diks S. Pasande mengaitkan tema diskusi dengan dinamika geopolitik global. Ia menyinggung konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sebagai contoh bagaimana suatu peristiwa sering kali diproduksi dalam berbagai narasi kekuasaan.

Menurutnya, dalam banyak kasus, peristiwa politik global tidak hanya berlangsung sebagai fakta historis, tetapi juga sebagai konstruksi narasi yang dibangun oleh otoritas tertentu.

Dalam konteks tersebut, gagasan konspirasi kerap muncul sebagai kritik terhadap kekuasaan maupun respons masyarakat terhadap informasi yang tidak selalu transparan.

Untuk membaca fenomena itu, ia merujuk pada berbagai tradisi filsafat Barat, mulai dari pemikiran Martin Heidegger, Immanuel Kant, hingga Arthur Schopenhauer.

Baca Juga:  Sinjai Siaga Bencana, Debit Sungai Tangka Meluap BMKG Keluarkan Peringatan Cuaca Ekstrem

Referensi tersebut digunakan untuk menjelaskan bagaimana filsafat berupaya memahami hubungan antara realitas, pengetahuan, dan cara manusia memaknai dunia.

Sementara itu, Aslan Abidin membawa diskusi ke dalam konteks kehidupan sosial mahasiswa dan dunia akademik.

Ia menyoroti berbagai gejala di lingkungan pendidikan tinggi, mulai dari rendahnya minat membaca hingga kecenderungan mahasiswa menghindari sikap kritis dalam menghadapi berbagai persoalan sosial.

Menurutnya, budaya akademik seharusnya menjadi ruang untuk melatih keberanian berpikir, mempertanyakan, dan mengembangkan argumentasi.

Namun dalam kenyataannya, tidak sedikit mahasiswa yang merasa ragu menyampaikan gagasan kritis karena berbagai faktor, termasuk tekanan sosial maupun kebiasaan intelektual yang belum terbangun dengan baik.

Ia menambahkan bahwa sastra dan diskusi kebudayaan dapat menjadi ruang alternatif untuk menghidupkan kembali keberanian intelektual tersebut.

Baca Juga:  Tampil Gemilang di Piala Gubernur Sulsel, Karateka INKAI Sinjai Targetkan Emas di Porprov 2026

Melalui bahasa simbolik dan refleksi pengalaman manusia, sastra dinilai mampu membuka cara pandang baru dalam membaca realitas sosial.

Dialog yang berlangsung hingga larut malam itu memperlihatkan bagaimana tema “Konspirasa di Titik ب” dapat dibaca dari berbagai perspektif, mulai dari sejarah pengetahuan, filsafat, hingga kritik terhadap dinamika sosial kontemporer.

Selain dialog intelektual, kegiatan tersebut juga diisi dengan pementasan artistik berupa monolog, musik akustik, serta pembacaan puisi yang memperkaya suasana refleksi Ramadan.

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan sahur bersama sebagai ruang perjumpaan informal antara narasumber, peserta, dan komunitas sastra yang hadir.

Melalui forum seperti ini, Tadarus Sastra diharapkan terus menjadi ruang dialog kebudayaan yang mempertemukan refleksi intelektual, ekspresi artistik, dan kesadaran sosial dalam satu perjumpaan yang terbuka.

Pos terkait