Sinjai, MarajaNews— Sejumlah pedagang pasar tradisional dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Sinjai mulai mengeluhkan kenaikan harga kantong plastik dan kemasan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Kenaikan ini dinilai kian menghimpit margin keuntungan pelaku usaha yang baru saja merangkak pulih.
Berdasarkan pantauan MarajaNews di lapangan, berbagai jenis plastik kemasan mulai dari plastik kiloan, standing pouch, hingga kantong kresek mengalami kenaikan harga rata-rata 15% hingga 25%. Kondisi ini memaksa para pedagang memutar otak demi menjaga keberlangsungan usaha tanpa kehilangan pelanggan.
“Dulu satu pak plastik ukuran kecil masih di bawah Rp10.000, sekarang sudah tembus Rp12.500. Kelihatannya sepele, tapi kalau dikalikan penggunaan setiap hari, pengeluaran kami membengkak sekali,” keluh Siti, seorang pedagang gorengan lokal.
Dampak serupa dirasakan pelaku UMKM kuliner yang mengandalkan layanan pesan antar.
Kenaikan harga thinwall (wadah plastik) dan plastik pembungkus luar meningkatkan biaya operasional secara signifikan.
Banyak pelaku usaha mengaku dilematis untuk menaikkan harga jual karena khawatir daya beli masyarakat menurun.
Menanggapi fenomena tersebut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sinjai memberikan penjelasan terkait tren kenaikan harga kemasan plastik di pasar-pasar lokal.
Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Sinjai, Jamiat, mengungkapkan bahwa lonjakan harga ini bukanlah kebijakan sepihak dari pedagang lokal, melainkan dampak berantai dari kondisi ekonomi global dan fluktuasi permintaan domestik.
“Kami telah melakukan pemantauan lapangan dan mengidentifikasi beberapa faktor krusial yang menyebabkan harga plastik merangkak naik signifikan dalam beberapa pekan terakhir,” ujar Jamiat.
Berdasarkan analisis Disperindag Sinjai, terdapat tiga penyebab utama kenaikan tersebut yaitu, Lonjakan Harga Minyak Mentah Dunia, Pelemahan Nilai Tukar Rupiah, dan Hambatan Pasokan Pasca-Ramadhan
Menyikapi kondisi ini, Disperindag Sinjai mengimbau para pelaku usaha dan masyarakat untuk mulai mempertimbangkan penggunaan kemasan alternatif yang lebih ramah lingkungan atau melakukan efisiensi penggunaan plastik.
“Kami akan terus memantau stabilitas harga dan memastikan tidak ada aksi penimbunan di tingkat distributor agar beban masyarakat tidak semakin berat,” pungkas Jamiat.





