OPINI, MarajaNews — Era disrupsi kerap dipahami sebatas kemajuan teknologi, padahal yang lebih mendasar adalah perubahan cara manusia berpikir, bersikap, dan mengambil peran. Dalam konteks ini, pertanyaan pentingnya bukan lagi apakah perempuan mampu beradaptasi, tetapi sejauh mana perempuan mendapatkan ruang dan kesiapan untuk berkontribusi dalam menentukan arah perubahan. Di sinilah pentingnya memandang manusia khususnya perempuan sebagai pilar utama peradaban.
KOHATI (Korps HMI-Wati) memiliki posisi strategis dalam menjawab tantangan tersebut. Namun, peran ini perlu terus diperkuat agar tidak hanya berhenti pada simbol kaderisasi. KOHATI diharapkan mampu memastikan bahwa proses pembinaan benar-benar melahirkan perempuan yang berpikir kritis, tidak sekadar mengikuti arus. Di tengah derasnya arus informasi, tantangan utama bukan hanya pada akses pengetahuan, tetapi pada kemampuan menyaring dan memaknainya secara bijak.
Sebagai ruang pembentukan manusia, KOHATI berperan dalam menumbuhkan kesadaran intelektual, moral, dan sosial perempuan. Perempuan tidak hanya didorong untuk aktif, tetapi juga reflektif mampu memahami posisinya dalam realitas sosial serta mengambil sikap secara bertanggung jawab. Hal ini penting, karena peradaban dibangun oleh manusia yang sadar dan terlibat, bukan yang pasif.
Di sisi lain, peningkatan kapasitas menjadi hal yang tidak dapat diabaikan. Era disrupsi menuntut berbagai keterampilan baru, mulai dari literasi digital hingga kepemimpinan. KOHATI memiliki peluang besar untuk menjadi ruang penguatan kapasitas tersebut. Upaya ini perlu dilakukan secara adaptif dan relevan, agar kader tidak hanya siap menghadapi tantangan masa kini, tetapi juga masa depan.
Isu ketimpangan gender juga masih menjadi tantangan yang perlu dihadapi secara bijak. Pendekatan yang dibangun sebaiknya tetap konstruktif, dengan menempatkan perempuan sebagai bagian dari solusi. Dalam hal ini, KOHATI dapat berperan sebagai jembatan yang mengharmoniskan nilai-nilai keislaman dengan dinamika sosial modern secara seimbang.
Di samping itu, refleksi internal juga menjadi hal yang penting. KOHATI perlu terus melakukan penguatan dari dalam, agar proses kaderisasi tidak bersifat formalitas, tetapi benar-benar menyentuh substansi. Dengan demikian, organisasi dapat tetap relevan di tengah perubahan yang berlangsung cepat.
Pada akhirnya, membangun peradaban berarti membangun manusia. Perempuan, sebagai bagian penting dari manusia itu sendiri, memiliki posisi yang tidak terpisahkan dalam proses tersebut. KOHATI, dengan segala potensinya, diharapkan mampu menjadi ruang yang melahirkan perempuan yang tidak hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga memiliki kapasitas dan keberanian untuk berkontribusi dalam menentukan arah masa depan.
Oleh: Basmawati (Ketua KOHATI Komisariat Syafi’i Cabang Sinjai)





