Peran Strategi KOHATI dalam Membangun Manusia sebagai Pilar Peradaban di Era Disrupsi

Ilustrasi (Dok.Istimewa)

OPINI, MarajaNews — Di era disrupsi saat ini, perubahan bukan lagi sesuatu yang bisa diprediksi dengan mudah. Perkembangan digital dan globalisasi membuat berbagai persoalan, khususnya isu perempuan, menjadi semakin kompleks dan sistemik. Permasalahan yang dulunya terlihat secara kasat mata, sekarang justru banyak terjadi secara tersembunyi, bahkan melalui ruang digital.

Menurut saya, kondisi ini menuntut KOHATI untuk tidak hanya bergerak secara biasa, tetapi harus memiliki strategi yang kuat dan terarah. KOHATI perlu hadir sebagai agen pergerakan isu perempuan yang mampu menjawab tantangan zaman. Karena hari ini, persoalan perempuan tidak hanya berbicara tentang ruang domestik, tetapi sudah meluas ke sektor ekonomi, sosial, politik, hingga lingkungan.

Bacaan Lainnya
Baca Juga:  Karbon Itu Ada di Sekitar Kita: Saatnya ASN Sulsel Bangkit Melihat Potensi Ekonomi yang Terlupakan

Salah satu realitas yang saya lihat adalah munculnya kekerasan berbasis gender online seperti pelecehan digital dan doxing. Dampaknya bukan hanya secara sosial, tetapi juga psikologis. Ini menunjukkan bahwa era digital tidak selalu membawa kemajuan, tetapi juga menghadirkan tantangan baru yang harus dihadapi dengan kesadaran dan kesiapan.

Selain itu, minimnya representasi perempuan dalam ruang-ruang strategis juga menjadi persoalan serius. Hal ini menyebabkan banyak kebijakan yang tidak sensitif gender. Di sinilah peran KOHATI menjadi penting, yaitu mendorong kader perempuan untuk berani hadir, berpikir kritis, dan terlibat dalam pengambilan keputusan.

Menurut saya, strategi yang harus dibangun KOHATI di era ini adalah penguatan kader berbasis data, penguatan ideologi keislaman, serta kolaborasi lintas sektor. Kader tidak cukup hanya paham teori, tetapi juga harus mampu membaca realitas secara utuh dan memberikan solusi yang konkret.

Baca Juga:  Perempuan dan Paradoks Penghormatan Sosial

Peran kader KOHATI hari ini bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai agent of change dan problem solver. Kader harus mampu mengadvokasi isu-isu perempuan, sekaligus menjadi jembatan perubahan di tengah masyarakat. Artinya, kader KOHATI harus adaptif terhadap perkembangan zaman, tetapi tetap berpegang pada nilai-nilai dasar yang menjadi landasan gerakan.

Pada akhirnya, saya melihat bahwa KOHATI memiliki peran strategis dalam membangun manusia sebagai pilar peradaban. Karena perempuan adalah madrasah pertama bagi generasi, maka ketika perempuan dibangun dengan baik baik secara intelektual, moral, dan sosial maka peradaban yang lahir pun akan kuat.

Di tengah arus disrupsi yang begitu cepat, KOHATI harus tetap menjadi ruang pembinaan yang mampu melahirkan perempuan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peka, kritis, dan mampu memberikan solusi bagi persoalan zaman.

Baca Juga:  Gus Dur, Ummatan Wāḥidah, dan Wajah Agama yang Terkoyak

Oleh: Nur Maizurah

Pos terkait