Bone, Marajanews —Aliran air payau Sungai Tempe yang melintasi Dusun Barakkao, Desa Polewali, Kecamatan Kajuara, menyimpan kisah mistis yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.
Sosok legendaris bernama “Lappeso”, seekor buaya putih penghuni sungai, diyakini warga bukan sekadar penghuni air biasa, melainkan entitas penjaga yang memberikan pertanda alam.
Penjaga Sungai dan Pertanda Bencana Menurut kepercayaan turun-temurun, kemunculan Lappeso sering kali menjadi sinyal akan datangnya peristiwa besar, seperti bencana banjir atau musibah lainnya.
Sosok buaya putih ini dikenal misterius karena ukurannya yang berubah-ubah, terkadang menampakkan diri dengan ukuran raksasa dengan diameter 4M, namun di saat lain terlihat sangat kecil.
Salah seorang warga menceritakan pengalaman nyata yang memperkuat mitos tersebut.
“Dulu saat saya sedang mencari kerang di sungai, tiba-tiba buaya putih itu muncul. Tak berselang lama setelah kejadian itu, ada seorang anak yang tenggelam di lokasi tersebut,” ungkapnya.
Meski diselimuti suasana mistis, warga mengaku sudah terbiasa hidup berdampingan dengan Lappeso.
Beberapa warga bahkan mengaku sering berpapasan langsung saat beraktivitas di sungai.
“Kadang buaya tersebut melintas sangat dekat dengan kami, malahan sampai menabrak tubuh kami, namun tidak mengganggu,” tambah warga lain.
Tradisi Sesajen Telur bagi Kelahiran Baru Keberadaan Lappeso telah melahirkan kearifan lokal yang unik.
Hingga tahun 2025 ini, warga Desa Polewali masih memegang teguh tradisi membawakan sesajen berupa telur ke pinggir sungai.
Ritual ini wajib dilakukan apabila ada warga desa yang melahirkan di luar daerah dan hendak membawa bayinya masuk ke dalam desa untuk pertama kalinya.
Tradisi ini dipercaya sebagai bentuk penghormatan dan permohonan keselamatan bagi sang anak.
Transformasi Jembatan Gantung Barakkao
Seiring dengan kisah mistisnya, Sungai Tempe juga memiliki sejarah infrastruktur yang panjang.
Jembatan gantung yang menjadi urat nadi Dusun Barakkao telah mengalami beberapa fase penting.
Di era 1980-an jembatan ini Mulai dibangun dengan konstruksi kayu sederhana.
Baru pada saat tahun 2005 Struktur jembatan ditingkatkan menjadi material besi untuk faktor keamanan, dan baru beberapa tahun kemarin Jembatan ini selesai direnovasi total dan kembali dapat digunakan oleh masyarakat setelah sebelumnya sempat roboh.
Keberadaan jembatan besi yang kokoh ini kini bersanding dengan cerita rakyat tentang Lappeso yang menyelimuti air payau di bawahnya.
Bagi masyarakat Desa Polewali, menghormati tradisi dan menjaga keseimbangan dengan alam adalah warisan yang akan terus dijaga melintasi zaman





