SINJAI, MarajaNews—Di balik dinding kokoh Masjid Al-Mujahidin, Desa Lamatti Riaja, tersimpan kepingan sejarah yang terjaga rapi.
Bagi Andi Ariany Djalil Asapa, Ketua Pengurus Masjid saat ini, rumah ibadah ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan warisan ideologis dan spiritual yang mengalir dalam darah keluarganya.
“Sejarah masjid ini bukan kisah dari saya pribadi, melainkan titipan dari para pendahulu kita semua,” ujar Andi Ariany saat mengawali ceritanya tentang masjid yang berdiri sejak tahun 1613 Masehi tersebut.
Andi Ariany menjelaskan betapa bersahajanya awal masjid ini saat didirikan oleh Arung Lamatti ke-VIII, Watesuro Ina Mattamaengengi Saddah Tanah.
Kala itu, masyarakat mengenalnya sebagai Masjid Bulu Lohe Aruhu karena materialnya yang didominasi bambu dan atap rumbia.
Keajaiban arsitektur masjid ini terlihat pada pemugaran oleh Raja Lamatti XXXVI, Andi Makkuraga Daeng Pagau, yang menggunakan teknik tradisional campuran semen kapur dan putih telur.
Garis silsilah ini terus berlanjut, Andi Makkuraga melahirkan Andi Asapa Daeng Pagau, yang kemudian melahirkan Andi Djalil Asapa ayahanda dari Andi Ariany sendiri.
Ada kisah haru di balik fasilitas masjid saat ini. Andi Ariany menceritakan bahwa dalam kondisi sakit, ayahandanya, almarhum Andi Djalil Asapa, tetap teguh membangun pendopo masjid. Kini, bangunan tersebut menjadi pusat aktivitas umat.
“Saya melanjutkan amanah almarhum Bapak. Pendopo itu sekarang kami fungsikan sebagai tempat pengajian anak-anak, kegiatan majelis taklim, serta perpustakaan masjid yang telah memiliki Nomor Pokok Perpustakaan (NPP),” ungkap anak dari Andi Djalil Asapa ini.
Nama “Al-Mujahidin” yang berarti ‘Para Pejuang’ disematkan karena pada tahun 1871, masjid ini menjadi pusat komando pejuang Lamatti melawan penjajah Belanda.
Semangat juang itulah yang kini diterjemahkan pengurus dalam bentuk pelayanan dan penataan.
Meskipun telah mengalami renovasi, Andi Ariany berkomitmen menjaga keaslian struktur utama yang tidak boleh diubah sebagai bukti sejarah.
Modernisasi dilakukan pada aspek kenyamanan, seperti pemasangan lampu penerangan halaman untuk keamanan jamaah.
“In syaa Allah, ke depan kami bersama pengurus akan terus menata halaman agar semakin asri dan nyaman bagi pengunjung. Kami ingin siapa pun yang datang tidak hanya melihat bangunan, tapi merasakan semangat syiar Islam yang tidak pernah padam di Bumi Panrita Kitta ini,” pungkasnya.





