SINJAI, MarajaNews—Di balik Dusun Bulu Lohe, Desa Lamatti Riaja, berdiri sebuah saksi bisu peradaban Islam Kabupaten Sinjai yang kini mulai sunyi dari derap langkah jamaah.
Masjid Al-Mujahidin, sebuah situs bersejarah yang pernah menjadi pusat spiritual para pejuang dan ulama kharismatik, kini seolah terlupakan oleh hiruk-pikuk zaman.
Masjid yang dulunya dikenal dengan nama Masjid Bulu lohe ini bukan sekadar bangunan ibadah
Berdasarkan catatan sejarah dan penuturan warga setempat Anwar(58) mengatakan masjid tersebut didirikan pada tahun 1613 oleh Arung Lamatti Watesuro Ina Mattamaengengi Saddah Tanah (Arung Lamatti ke VIII).
Raja tersebut diislamkan Datu ri Tiro sebagai seorang ulama penyebar Islam yang berdakwah di tiga kerajaan yang saling bertetangga yaitu Bulukumba, Selayar dan Sinjai.
Ulama itu bernama lengkap Nurdin Ariyani/Abdul Jawad dengan gelar Khatib Bungsu sebagai seorang ulama dari Koto Tangah, Minangkabau yang menyebarkan agama Islam ke kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan serta Kerajaan Bima di Nusa Tenggara pada penghujung abad ke-16 hingga akhir hayatnya.
“Masjid tertua itu didirikan oleh Arung Lamatti Tuwassuro Arung Lamatti ke VIII setelah diislamkan oleh ulama Datu ri Tiro,” kata Anwar
“Masjid yang semula bernama masjid Bulu Lohe Aruhu ini kemudian dipugar pertama kali oleh Raja Lamatti XXXVI, Andi Makkuraga Daeng Pagau Matinroe ri Masiginna. yang merupakan kakek buyut dari mantan Bupati Sinjai, almarhum A. Rudianto Asapa.” sambung nya
Ia juga mengungkap Pada masa lampau, Masjid Bulu lohe adalah “jantung” bagi masyarakat Lamatti.
” Konon, setiap kali peperangan akan berkecamuk, para pejuang berkumpul di sini untuk bersujud dan mengoneksikan diri kepada Sang Pencipta guna memohon perlindungan dan kemenangan.”Jelasnya.
Ketokohan masjid ini semakin kuat dengan hadirnya Nuhung Daeng Patippe sebagai imam pertama.
Dari rahim Bulu Lohe inilah lahir ulama-ulama besar yang mengharumkan nama Sinjai, seperti KH. Muh. Tahir (Puang Kali Taherong) dan KH. Muh. Hasan Syuaib. Melalui dedikasi merekalah, Kabupaten Sinjai hingga kini menyandang julukan terhormat sebagai “Bumi Panrita Kitta”.
Perubahan Fisik dan Jejak Makam Keramat
Memasuki tahun 1980-an, masyarakat sempat melakukan pemugaran. Dalam proses tersebut, badan masjid digeser sekitar 3 meter ke samping.
Hal ini menyebabkan makam Sang Raja, Makkuraga Daeng Pagau (Matinroe ri Mesjidna), yang dulunya berada di dalam area bangunan, kini berada di sisi luar masjid.
Pada awalnya mesjid ini memiliki luas 81 M2 dan setelah dilakukan pemugaran serta dikeluarkannya makam Makkuraga Daeng Pagau Matindroe ri Masigina dari induk mesjid maka luasnya menjadi 90 M2
Di Area masjid terdapat papan yang bertuliskan tentang Sejarah singkat bangunan yaitu Islam mulai masuk di Kerajaan Lamatti abad ke- XVII oleh Datuk Di Tiro.
Di masjid ini terdapat tujuh buah makam. Makam pertama nisannya berukiran aksara Arab berwarna hitam dengan tinggi 100cm dan lebar 80 cm, letak makam berada sebelah utara masjid.
Makam kedua nisan juga memiliki ukiran berwarna putih dengan lebar 200 cm letaknya berbeda dengan yang lainnya. Namun masih berada dalam lingkungan masjid.





