Harga Cabai Keriting di Sinjai Anjlok hingga Rp8.000/Kg, Petani Menjerit Terancam Gulung Tikar

(Dok.Istimewa)

SINJAI, MarajaNews—Sektor pertanian hortikultura di Kabupaten Sinjai tengah menghadapi krisis serius di awal tahun 2026.

Para petani cabai keriting mengeluhkan merosotnya harga jual yang tidak lagi mampu menutup tingginya biaya perawatan dan operasional pertanian.

Saat ini, harga cabai keriting di tingkat petani terjun bebas ke kisaran Rp6.000 hingga Rp8.000 per kilogram.

Nilai tersebut berada jauh di bawah titik impas (break-even point), mengingat harga sarana produksi yang terus merangkak naik.

Hafid (56), salah satu petani lokal, mengungkapkan kekecewaannya atas kondisi pasar yang kian menyudutkan produsen kecil.

“Harga cabai keriting sekarang hancur, hanya laku Rp6.000 sampai Rp8.000 per kilo. Padahal, biaya perawatan seperti pupuk dan obat-obatan kian semakin mahal,” keluh Hafid.

Baca Juga:  Aksi Heroik, Kasat Intel Polres Sinjai Padamkan Api yang Nyaris Bakar Warung

Ketimpangan antara modal produksi yang besar dengan harga jual yang rendah membuat para petani tidak hanya kehilangan keuntungan, tetapi juga terancam gulung tikar jika kondisi ini terus berlanjut.

Menanggapi situasi ini, para petani mendesak pemerintah melalui dinas terkait untuk segera melakukan intervensi pasar guna menstabilkan harga.

Selain itu, mereka menuntut adanya pengawasan ketat terhadap rantai distribusi agar selisih harga di tingkat konsumen tidak terlalu timpang dengan harga di tingkat lahan.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari dinas terkait mengenai langkah penanganan anjloknya harga komoditas tersebut.

Pos terkait